Kamis, 19 Januari 2012

Melatih Kemandirian Diri di Gombengsari

Pada tanggal 17, 18, dan 19 Januari 2012 ini, para siswa kelas 8 SMP Negeri 1 Banyuwangi melakukan kegiatan homestay di Gombengsari dan Kemiren. Tujuan dari kegiatan ini adalah salah satunya untuk melatih kemandirian siswa dan melatih agar siswa dapat merasakan rasanya tinggal di desa. Bahkan untuk mencari segelas air pun harus berjalan menuruni bukit. Pada acara ini sekolah memberi peraturan untuk memakai kain yang diikat seperti sarung atau sewek untuk para siswi dan memakai penutup kepala atau udheng untuk para siswa. Kami 4 anak yang terkumpul dalam 1 kelompok yaitu kelompok 16.

Acara ini diawali dengan pemberangkatan dari SMP Negeri 1 Banyuwangi pada tanggal 17 Januari 2012 pada sekitar jam 7. Saat itu semua terlihat penasaran dan sedikit tegang karena mereka tidak tahu akan tinggal dimana selama 3 hari ini. Tas untuk mengangkut barang-barang yang dibawa oleh para siswa sangat beragam. Ada yang membawa tas backpack saja, ada yang membawa koper kecil sampai dengan koper besar, dan bahkan ada yang membawa lebih dari satu tas. Tak lupa juga ada yang membawa kasur lipat, mungkin agar lebih berasa nyaman saat tidur. Semua tas terlihat sangat berat, namun bagi siswa yang sering ikut serta dalam perkemahan, beban itu sepertinya biasa saja.

Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya siswa diberangkatkan menuju ke Gombengsari dan Kemiren. Ada beberapa angkutan yang membawa siswa menuju ke Gombengsari dan ada juga yang menuju ke Kemiren. Suasana di perjalanan sangat gaduh. Dan akhirnya semua siswa tiba di Kelurahan Gombengsari, seluruh siswa segera turun dari angkutan dan mencari tempat duduk di Kantor Kelurahan Gombengsari dan mendengarkan beberapa sambutan dari ketua panitia dan perwakilan dari Bapak Lurah yang kebetulan masih ada kegiatan di Kabupaten. Ternyata seluruh induk semang atau orang tua sementara selama homestay telah menantikan kedatangan para siswa.


Pembukaan pun selesai, para induk semang menjemput siswa untuk diantarkan ke rumah yang tersebar di beberapa tempat. Dan setelah berjalan cukup jauh, terlihatlah rumah yang sangatlah sederhana. Rumah ini hanya memiliki 2 kamar, 1 ruang tamu, dan 1 dapur. Dibelakang rumah ini juga terdapat kandang sapi. Setelah mendapat informasi ternyata induk semang kami bernama Bapak Soeroso, yang biasa dipanggul Pak Osok. Beliau ini adalah orang yang sangat tegar, beliau telah tinggal di rumah sederhana ini sejak kecil. Sekarang beliau tinggal dengan seorang adiknya dan 2 orang anaknya. Beliau juga harus membiayai keluarga kecilnya itu. Beliau hanya bekerja sebagai pemelihara sapi yang bahkan sapi tersebut bukan miliknya. Setiap pagi Bapak Soeroso pergi untuk mencari rumput untuk memberi makan sapi-sapi tersebut. Beliau selalu ditemani anak laki-laki satu-satunya yang bernama Hermanto.
Rumah Sederhana Bapak Soeroso sekeluarga


Hari pertama pun terlewati, kami berempat berfikir untuk meninggalkan kenang-kenangan untuk Bapak Soeroso dan keluarganya. Lalu, kami sepakat untuk memberikan kerajinan tangan perahu kecil yang dibuat dari pelepah pisang dan uang sebesar Rp 50.000,- Kami pun pergi untuk mencari bahan untuk membuat kerajinan yang sederhana tersebut. Akhirnya semua bahan terkumpul, dan kami pun langsung membuat perahu tersebut. Setelah jadi, kami langsung menyembunyikannya agar tidak ditemukan oleh Bapak Soeroso maupun keluarganya. Matahari pun tenggelam dan malam mulai datang. Seperti biasa malam di sini sangat gelap dan dingin. Bapak Soeroso menceritakan pengalaman-pengalamannya selama tinggal disini, termasuk pengalaman yang menegangkan. Suasana sangat mendukung cerita Bapak Soeroso yang menyeramkan itu. Hujan disertai petir dan kilat membuat suasana sangat menegangkan.

Hari ketiga dan sekaligus hari terakhir pun tiba, hari ini kami berempat berpamitan kepada keluarga Bapak Soeroso. Saat itu pukul 07.00 pagi, dan kami berempat bergegas untuk melakukan kegiatan Penanaman 1 Miliar Pohon. Setelah itu, kami kembali ke rumah induk semang. Dan setelah pukul menunjukkan angka 10, kami bersiap-siap untuk kembali pulang ke rumah masing-masing. Rasa haru dan tangis menyertai perpisahan kami dan siswa yang lain dengan induk semang masing-masing. Setelah semua siswa berpamitan, seluruh siswa langsung pergi ke Kantor Kelurahan untuk acara penutupan. Dan akhirnya acara homestay ini ditutup oleh Bapak Lurah Kelurahan Gombengsari.

Kemudian, siswa langsung diantar kembali ke SMP Negeri 1 Banywuwangi. Dan dijemput oleh orang tua masing-masing.

Setelah semua kegiatan tersebut kami menyadari bahwa betapa pentingnya keluarga bagi kita dan kita harus banyak-banyak bersyukur atas segala yang kita miliki selama ini.








2 komentar: